Senin, 18 Januari 2016

Diagnosa Penyakit Ikan Dengan PCR



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Udang vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan primadona budidaya air payau pada saat ini. Udang vannamei merupakan udang yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan salah satu komoditas ekspor. Pembudidayaan udang vannamei di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama di Lampung, Jawa Timur dan Bali. Pesatnya perkembangan budidaya udang vannamei di berbagai tempat,dikarenakan udang vannamei memiliki beberapa keunggulan yaitu pertumbuhan lebih cepat, ukuran panen yang lebih seragam, relatif tahan dengan serangan penyakit, dan memiliki produktivitas per satuan luas lahan lebih tinggi. Introduksi udang vannamei (L. vannamei) telah dirilis (release) secara resmi melalui SK MenteriKelautan dan Perikanan No. KEP.41/MEN/2001 pada tanggal 14 Juli 2001. Sampai tahun 2003, budidaya udang vannamei telahmenyebar di 15 (lima belas) provinsi di Indonesia, danProvinsi Jawa Timur merupakan produsen dan pemasok utama benur vannamei ke berbagai daerah di Indonesia.
Pada tahun yang sama juga terjadi kematian massal udang vannamei pada beberapa area pertambakan di Jawa Timur. Hasil uji dengan teknikPolymerase Chain Reaction (PCR) menunjukkan bahwaudang terinfeksi Taura Syndrome Virus (TSV). Penyakit yang disebabkan virus umumnya sangat sulitdikendalikan, seperti halnya infeksi White Spot SyndromeVirus (WSSV) pada udang windu, TSV merupakan virus yang menginfeksi udangvannamei dan rostris (Litopenaeus. stylirostris) yang keduanya telahdiintroduksi di Indonesia. Serangan TSV pada  umumnyaterjadi pada umur 14 – 40 hari setelah penebaran di tambak,dengan tingkat kematian dapat mencapai 95%. Studi yang dilakukan pada saat praktek kerja lapangan terhadap kasus serangan penyakit yang disebabkan oleh virus dilakukan di area pertambakan wilayah Pati Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan tindakan pemantauan guna memonitoring penyebaran hama penyakit ikan yang ada di Jawa Tengah. Balai Karantina Ikan, Pengedalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Tanjung Emas Semarang, merupakan unit pelaksana teknis karantina ikan yang mempunyai tugas melaksanakan pencegahan masuk dan tersebarnya hama dan penyakit ikan karantina dari luar negeri dan dari suatu area ke area lain di dalam negeri atau keluarnya dari dalam wilayah negara Republik Indonesia. Balai Karantina Ikan Kelas II Tanjung Emas Semarang, melakukan beberapa metode pemeriksaan seperti metode pemeriksaan parasit, bakteri, jamur, dan virus secara histologi, mikrobiologi, kimiawi maupun molekuler.
B.    Rumusan Masalah
Penyakit ekor merah atau virus TSV (Taura Sindrome Virus) yang menyerang budidaya udang vannamei dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi para petambak udang akibat kematian masal yang terjadi.Diagnosa penyakit TSV dapat dilakukan melalui duametode yaitu diagnosa awal yang merupakan pendugaan(presumptive diagnose) dan diagnosa definitif. Diagnosa awaldilakukan berdasarkan gejala klinis. Adapun diagnosadefinitif dilakukan untuk mendapatkan kepastian mengenaipenyebab suatu penyakit antara lain dengan uji PCR,imunokimia dan imunohistokimia, hingga saat ini metodeyang cepat dan sensitif adalah uji PCR. Pemeriksaan TSV terhadap udang vannamei ini sangat diperlukan karena udang vannamei rawan terinveksi oleh virus TSV sehingga perlu dilakukan penelitian ini.
C.    Tujuan
Tujuan dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan di Balai Karantina Ikan, Pengedalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Tanjung Emas adalah sebagai berikut:
1.      Mengetahui gejala klinis pada sampel udang vannamei yang terserang virus TSV.
2.      Mengetahui proses diagnosis secara molekuler dengan menggunakan PCR.
D.    Manfaat
Manfaat dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan di Balai Karantina Ikan,Pengedalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Tanjung Emas antara lainmemberikan data dan informasi mengenai penggunaan metode PCRyang merupakan aplikasi bidang bioteknologi molekuler yang bermanfaat untuk mendiagnosis adanya serangan organisme patogen khususnya sindrom ekor merah pada udang vannamei dengan menggunakan PCR yang disebabkan oleh serangan Taura Syndrome Virus (TSV).
E.     Waktu dan Tempat
Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan dan dimulai pada tanggal 18Februari– 03Maret 2013 di Balai Karantina Ikan,Pengedalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Tanjung Emas, Semarang.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Udang Vannamei ( Litopenaeus vannamei)
Udang vannamei (Litopenaeus vannamei)adalah salah satu spesies udang unggul yang sejak tahun2002 mulai dikultur di tambak-tambak di Indonesia. Udang yang biasa disebut pacific white shrimp atau rostris ini berasal dari perairan Amerika dan Hawaii. Sebenarnya ada dua spesies udang yang dikenal sebagai pacific white shrimp yang merupakan udang introduksi yaitu L. vannamei dan L. stylirostris. Spesies yang paling banyak di budidayakan adalahL. vannamei. Secara ekologis udang vannamei mempunyai siklus hidup identik dengan udang windu (Penaeus monodon) dan udang putih (P. merguensis) yaitu melepaskan telur di tengah laut, kemudian terbawa arus dan gelombang menuju pesisir menetas menjadi nauplius, sterusnya menjadi stadia zoea, mysis, post larva, dan juvenil. Pada stadia juvenil telah tiba di daerah pesisir, selanjutnya kembali ke tengah laut untuk proses pendewasaan dan bertelur (Kordi,2011).
1.     Taksonomi Udang vannamei
Udang vannamei juga mempunyai nama F.A.O yaitu Whiteleg shrimp, Crevette pattes blanches dan Cammaron patiblanco (Gulf States Marine Fisheries Commmision, 2006). Klasifikasi udang vannamei menurut Boone (1931), sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea
Kelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei



2.     Morfologi Udang Vanname
Morfologi Udang vannamei memiliki tubuh yang berbuku dan aktifitas berganti kulit luaratau eksoskeleton (moulting) secara periodik. Tubuh udang terdiri dari kepala danabdomen, bagian kepala terdiri dari antenula, antena, mandibula dan 2 pasang maxillae, kepala udang dilengkapi dengan 3 pasang maxilliped dan 5 pasang kaki jalan (periopoda) dan atau kaki sepuluh (decapoda). Maxilliped sudah mengalami modifikasi dan berfungsi sebagai organ untuk makan endopodite kaki jalanmenempel pada cephalothorax yang dihubungkan dengan coxa, bentuk periopoda beruas-ruas yang berujung pada bagian dactylus. Dactylus ada yang berbentuk capit (kaki ke-1, ke-2 dan ke-3) dan tanpa capit (kaki ke-4 dan ke-5). Abdome terdiri dari 6 ruas. Pada bagian abdomen terdapat 5 pasang kaki renang (pleopode) dan sepasang uropode yang berbentuk kipas bersama-sama telson (Haliman dan Adijaya, 2005 dalam Nuraini 2008).
3.     Kebiasan Makan
Kebiasaan makan dan cara makan (Feeding and Food Habit)udang vannamei identik dengan udang windu yaitu tergolong udang omnivorous scavanger, pemakan segala ( hewan , tumbuhan dan bangkai. Jenis makanan yang di makan oleh udang vannamei antara lain plankton alga bentik, detritus dan bahan organik lainya yang membedakan dengan udang windu adalah pada udang vannamei lebih rakus ( piscivorous) dan membutuhkan proteinyang lebih rendah( Kordi,2011).
4.     Lingkungan Hidup
Lingkungan Hidup optimal yang menunjang pertumbuhan dan sintasan atau kelangsungan hidup udang vannamei memiliki toleransi yang sangat luas terhadap perubahan lingkungan , seperti salinitas 0,1-60 ppt ( tumbuh dengan baik 10 – 30 ppt, (ideal 15 – 25 ppt) dan suhu 12 – 37 0C ( tumbuh dengan baik pada suhu 24 – 34 0C dan ideal pada suhu 28 – 31 0C) ( Kordi,2011).
B.    Taura Syndrome Virus(TSV)
1.     Epidemologi TSV
Taura sindrommuncul pada tahun 1994. Taura sindrom pertama kali muncul pada kegiatan akuakultur yang dilakukan di wilayah Hawaii dan Arizona dan dikenal hingga sekarang sebagai Taura Syndrome Virus (TSV). Para peneliti di University of Arizonatelah menyimpulkan bahwa TSV sebagai penyebab langsung penyakit Taura Syndrome. Taura Syndrome baik Penaeus vanname idan P.stylirostris namun Virus dapat menginfeksi dengan ekspresip enyakit dan keparahan gejala yang berbeda dimasing-masing.Secara umum, P.stylirostrisjauh lebih tahan terhadap TSV dibandingkan dengan P.vannamei.
Kasus serangan TSV pada P.stylirostris pada udang masih bisa berhasil dipanen dan dijual  oleh petani dengan praktek  manajemen yang baik.Sebaliknya, kasus serangan pada P.vannamei oleh virus TSV dapat menyebabkan tingkat kematian yang tinggi antara75-80%, secara signifikan mempengaruhi ekonomi masyarakat pembudidaya (CTSA, 1996). Penyakit yang disebabkan oleh TSV sering disebutTaura Syndrome Disease atau disebut juga “penyakit ekormerah”. Infeksi TSV bersifat sistemik, pertama kal idilaporkan dari tambak udang di sekitar Sungai Taura,Ekuador pada tahun 1992. Penyakit TSV dengan cepat menyebar ke sentra pengembangan budidaya udang vannamei lainnya di benua Amerika, dan beberapa negara Asia sepertiCina dan Taiwan. Penyakit TSV telah mengakibatkan dampakyang serius pada industri budidaya udang vannamei di sebagian besar negara yang membudidayakan udang tersebut, termasuk Indonesia. Pada awal tahun 2003, Laboratorium Riset Kesehatan Ikan Pasar Minggu bekerja sama dengan Balai Budidaya Air Payau Situbondo, berhasil mendeteksi adanya infeksi penyakit TSV dari puluhan sampel udang vannamei dari sentra budidayayang mengalami kematian massal (Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2005).
2.     Biologi TSV
Taura sindrome Virus adalah virus RNA yang sangat kecil. TSV memiliki virion dengan diameter 31-32 nm, berbentuk icosahedron tidak memiliki anvelope dengan buoyant density of 1.338 g/ml. GenomTSVterdiri dari, linearpositif-sense RNA beruntai tunggal dari 10.205 nukleotida, termasuk poli-A ekor3', dan berisi dua open reading frames (ORFs). ORF1mengandung motif urutan untuk protein  nonstruktural, seperti helikase, protease, dan RNA-dependent RNA polimerase. ORF2berisi urutan untuk protein struktural TSV, termasuk tiga protein kapsid, besar VP1VP2 dan VP3(55, 40, dan 24kDa, masing-masing). Virus bereplikasi dalam sitoplasma sel inang. Berdasarkan karakteristiknya, TSV telah ditetapkanoleh International Cripavirus dan Committee Virus Taxonomy(ICVT) merupakan genus baru kegenus dalam keluarga Dicistroviridae dalam superfamili Picoranviruses (Lightner, 2004).
3.     Mekanisme serangan TSV
TSV merupakan virus yang menginfeksi udang vannamei dan rostris (L. stylirostris) yang keduanya telah diintroduksi di Indonesia. Serangan TSV pada umumnya terjadi pada umur 14 – 40 hari setelah penebaran di tambak, dengan tingkat kematian dapat mencapai 95%. Apabila penyakit terjadi pada umur 30 hari pertama, berarti infeksi berasal dari induk (vertikal), jika lebih dari 60 hari berarti infeksi berasal dari lingkungan (horisontal). Udang vannamei dewasa dapat terinfeksi TSV, namun tingkat kematiannya relatif rendah. Infeksi TSV ada 2 (dua) fase, yaitu fase akut dan kronis. Pada fase akut akan terjadi kematian massal. Udang yang bertahan hidup dari serangan penyakit TSV, akan mengalami fase kronis. Pada fase kronis, udang mampu hidup dan tumbuh relatif normal, namun udang tersebut merupakan pembawa (carrier) TSV yang dapat ditularkan ke udang lain yang sehat ( Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2005).
C.    Polymerase Chain Reaction (PCR)
Menurut Koesharyani (2001), PCR termasuk metode deteksi penyakit secara molekuler yang efektif dan efisien, yaitu dengan cara perbanyakan fragmen DNA spesifik tanpa bantuan sel bakteri. Teknik ini merupakan teknik enzymatik secara invitro untuk memperbanyak fragmen DNA dengan memperpanjang primer secara stimultan pada strand DNA yang teramplifikasi sekitar 2 kali lebih dari banyak setiap siklus. Pemeriksaan dengan metode PCR terdiri dari tiga tahapan. Proses ini bermula dari ekstraksi DNA/RNA sampel untuk penyedia cetakan, Amplifikasi DNA/RNA dengna bantuan mesin PCR (thermocycler) dan analisa hasil amplifikasi dengan elektroforesis, pewarnaan DNA dan dokumentasi. (Surfianti, 2010).Pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui pemanfaatan teknik polymerase chain reaction (PCR) yang bekerja secara spesifik dan sensitif. Teknik PCR dapat digunakan untuk mendeteksi virus pada udang yang dibudidayakan. Virus yang menginfeksi udang dalam jumlah sedikit dan belum menimbulkan gejala penyakit pada udang dapat dideteksi dengan menggunakan teknik tersebut. Keberadaan virus dapat dilacak sejak dini karena DNA/RNA virus yang jumlahnya sedikit dapat digandakan dengan PCR sehingga keberadaannya dapat segera terlacak ( Dwinanti, 2009)

Proses PCR, memerlukan:
a.    DNA cetakan, yaitu fragmen DNA yang akan dilipatgandakan
b.    oligonukleotida primer yang berupa oligonukleotida pendek (18-30 basa nukleotida) dan merupakan unsur penting untuk mencapai sensitivitas dan spesivitas dalam proses amplifikasi (Fuadi, 2010).
Tang & Lightner dalam Mekata (2012), penyakit virus sangat sulit untuk dikontrol setelah timbulnya infeksi karena pada prophylaxes. Untuk mencegah atau mengurangi kerugian dilakukan pendeteksian secara vertikal maupun horizontal. Berbagai metode telah berkembang untuk mendeteksi virus termasuk bioassay, histopathologi, dot blot dengan hybridisasi in situ, Polymerase Chain Reaction secara insitu maupun realtime PCR. Reaksi dalam PCR Menurut Wuryastuti (2002) pada dasarnya teknik PCR pada setiap siklusnya terdiri dari tiga tahap reaksi yaitu: a. Denaturation DNA, yaitu pemecahan DNA terget dari untai ganda DNA (dsDNA) menjadi dua untai tunggal yang identik. Proses denaturasi dapat secara mudah dicapai dengan pemanasan secara cepat yang diikuti dengan pendinginan secara cepat pula. Secara umum untai ganda DNA akan mengalami denaturasi pada suhu sekitar 940 C. Waktu denaturasi yang baik untuk setiap putaran berkisar antara 30 detik sampai 2 menit. Waktu denaturasi yang optimal untuk beberapa macam cetakan adalah 1 menit. b. Annealing, yaitu perlekatan primer kepada DNA untai tunggal. Dalam tahap ini, temperatur harus diturunkan secepat mungkin untuk mencegah terjadinya perlekatan kembali antara untai tunggal DNA. Suhu dan waktu annealing berperan penting dalam menentukan spesifisitas dan sensifitas dari reaksi. Pada suhu 600C primer akan menempel pada pangkal dan ujung dari masing-masing DNA untai tunggal yang komplementer sehingga mengapit suatu daerah tertentu dari sequence DNA target. Waktu yang umumnya dipergunakan dalam proses primer annealing berkisar antara 0,5 - 2 menit. c. Extension, yaitu pemanjangan primer dengan bantuan enzime Taq Polymerase menggunakan rantai komplementer sebagai template dan deoksiribonukleotida sebagai bahan untuk membentuk untai DNA yang lengkap. Kisaran temperatur untuk proses perpanjangan primer adalah 750-800C, sedangkan temperatur optimal adalah 720. Sehingga pada akhir proses ini, akan terbentuk 2 buah DNA untai tunggal yang baru yang komplementerhadap sekuen (urutan) DNA target.
BAB III
MATERI DAN METODE
A.     Materi
Materi yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini meliputi udang uji yaitu udan vannamei (Litopenaeus vannamei) dengan berat rata-rata 2 gram yang berasal dari hasil kegiatan pemantauan atau survey HPI dan HPIK dari area tambak di wilayah Pati,Jawa Tengah.
1.    Sampel udang uji
Udang yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan adalah udang vannamei(Litopenaeus vannamei) yang diduga telah terinveksi viral disease dan diperoleh dari area pertambakan di wilayah Pati, Jawa Tengah
2.    Alat
Alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan TSV dengan metode PCR adalah sebagai berikut : Alat-alat yang digunakan dalam pemeriksaan TSV dengan metode PCR
·         Micro centrifuge berfungsi untuk mencampurkan larutan (homogen)
·         Vortex mixer  berfungsi untuk mencampurkan larutan
·         Timbangan analitik
·         Heating block
·         Mikropipet 0,001 g berfungsi untuk menimbang sampel dan bahan Memanaskan larutan 100 – 1000µm, Mengukur volume larutan 20 -100µm, 10 – 20µm,dan 0,5 – 10 µm.
·         Disetting set berfungsi untuk menggunting dan menempatkan sampel
·         Thermal cycler berfungsi untuk reaksi PCR
·         UV transilluminator berfunsi sebagai pembaca hasil pada sel agarose
·         Freezer -200 C berfungsi untuk menyimpan reagen dan sampel uji
·         Mesin Electrophoresis with Power Supply
·         Digital Photo System berfungsi sebagai pembacaan hasil pada sel agarose - Visualisasi hasil elektroforesis
·         Tube ependorff berfungsi sebagai tempat sampel 10
·         Microtube 100 – 1000µm, berfungsi sebagai tempat sampel 20 -100µm, 10 – 20µm,dan 0,5 – 10 µm.
·         Penggerus Plastik berfungsi sebagai penggerus sampel
·         Masker dan Glove berfungsi sebagai pelindung muka dan tangan.
3.    Bahan
Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan TSV dengan metode PCR adalah sebagai berikut:
·         Udang Vannamei
·         Bahan Ekstraksi 5 ekor RNA Sebagai sampel yang di uji 500µl Sebagai reagen ekstraksi (RNA Ekstraction Solution)
·          Alkohol 95% 50 ml sebagai medium pengawet sampel
·          Isopropanal 200µl sebagai medium pelarut pada proses ekstraksi.
·          Chloroform
·          100µl Primer Kit TSV (IQ 2000) sebagai pelarut pada proses ekstraksi Sebagai Reagen pada proses Reagem pada proses ekstraksi.
·          TAE Buffer 1X 500µl sebagai amplifikasi.
·          DEPC ddH2O
·         DNA Marker
·          Agarose 500µl Pelarut pellet  RNA sebagai kontrol TSV 500µl sebagai cetakan tempat pembacaan hasil elektoforesis
·         Loading Dye 6X
·          Ethidium Bromide 5µl 100 ml sebagai pemberat larutan Sampel Sebagai pemuncul warna pada proses UV transiluminator
·         Aquades Steril 600 ml sebagai pengencer kepekatan Ethidium Bromide.
B.    Metode
Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan ini menggunakan metode survey melalui pengambilan sampel pada lokasi secara langsung yang selanjutnya dilakukan pemeriksaan terhadap udang yang diduga terserang virus. Lokasi tempat pengambilan sampel yaitu area tambak di wilayah Pati, Jawa Tengah yang merupakan daerah pemantauan yang sebelumnya telah dilakukan monitoring hama penyakit ikan dan kemudian dilakukan pemeriksaan secara biomolekuler. Data yang di ambil merupakan data primer dan data sekunder. Data Primer meliputi gejala klinis udang vannamei (Litopenaeus vannamei) yang diduga terserang virus serta pembacaan hasil dari proses PCR. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari instansi yang berkaitan dengan Praktek Kerja Lapangan di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas II Tanjung Emas, Semarang.
1.     Prosedur Pemeriksaan TSV dengan Metode PCR
Prosedur dalam pemeriksaan KHV dengan metode PCR sesuai dengan Instruction Manual IQ2000TM (Farming Intelligence Corp, 2003), yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a.    Penanganan sampel uji
Tahap awal yang dilakukan adalah melihat kenampakan sampel udang yang diduga terkena serangan virus, kemudian segera menyiapkan seluruh alat yang akan digunakan untuk pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan dengan kadaan steril agar tidak terjadi kontamisi seperti halnya penggunaan pinset atau gunting yang berbeda pada masing–masing sampel yang akan di uji. Bahan uji diambil dari udang dengan cara mengambil bagian organ pleopode, periopode, insang dan ekor dengan menggunakan gunting dan pinset. Organ target yang telah diambil selanjutnya disimpan dalam alkohol 95% kemudian dilakukan pemberian label atau pengkodean sampel pada masing-masing tube sesuai dengan nomor contoh. Selanjutnya disimpan sampel pada suhu -200C dalam freezer.
b.    Tahapan ekstraksi RNA
Tahap ekstraksi RNA ini menggunakan prosedur ekstraksi DTAB-CTAB solution (Kit IQ2000TM). Meletakan pleopoda, periopoda, atau insang sebanyak 2 pieces (20 mg), 30 ekor untuk ukuran udang < PL 12 atau PL 12 – 20 kemudian masukan ke dalam tube dengan ukuran 1,5 ml. Kemudian tambahkan 500 µm RNA Extraction Solution ke dalam microtube dan hancurkan sampel dengan menggunakan pestel hingga tercampur rata dan kemudian diamkan pada suhu ruang selama 5 menit. Tambahkan 100µm cloroform (CHCl3) kemudian vortex selama 20 detik dan diamkan dalam suhu ruang selama 3 menit. Setelah itu masukan microtube ke dalam mesin sentrifuge dengan kecepatan 12000rpm selama 15 menit. Setelah proses sentrifus selesai pindahkan supernatan sebanyak 200µl kedalam microtube baru dengan ukuran 1,5 ml dan tambahkan isopropanol, tahap selanjutnya memvorteks dan mensentrifus kembalidengan kecepatan 12000rpm selama 10 menit. Setelah proses sentrifus ke dua selesai kemudian buang isopropanol yang ada pada tabung akan terlihat lapisan tipis ataupun endapan putih berada pada dasar maupun dinding tabung lapisan tersebut adalah pellet yang berisi untaian RNA. Selanjutnya mencuci pellet tersebut dengan menggunakan ethanol 75% sebanyak 500µm lalu sentrifuskembali dengan kecepatan 7500rpm selama 5 menit. Setelah proses sentrifuge terakhir telah dilakukan maka ethanol yang ada pada tube dibuang kemudian keringkan pellet pada suhu ruang. Setelah pellet mengering dilakukan pemberian DEPC ddH2O sebanyak 500µm untuk melarutkan pellet. Pellet RNA telah siap digunakan untuk proses selanjutnya atau dapat dilakukan penyimpanan dengan suhu -200oC.
c.    Tahapan amplifikasi
Sebelum mencampur reagen, pastikan reagen dalam keadaan cair (jangan sampai ada cairan yang menggumpal/beku) yaitu dengan cara divorteks. Komposisi larutan kit PCR untuk deteksi TSV berdasarkan Farming Intelligence Tech. Corp (2003), dibuat dengan mencampurkan bahan-bahan sebagai berikut: a. Bahan reaksi FirstPCR: 8 μl/reaksi First PCR PreMix 7.0 μl x 5 sampel : 35μl Iqzyme DNA Polymerase 0.5 μl x 5 sampel : 2,5 μl RT Enzyme Mix 0.5μlx 5 sampel : 2.5μl b. Bahan Reaksi Nested PCR: 15 μl/reaksi Nested PCR PreMix 14 μl x 5 sampel : 70μl Iqzyme DNA Polyemerase 1 μl x 5 sampel : 5 μl Setelah semua bahan dicampur (kecuali template RNA), bagikan ke dalam mikrotube 0,2 mL dengan volume masing-masing 8 μL. Tambahkan template RNA, termasuk kontrol positif ( RNA positif TSV) dan kontrol negatif (ddH2O), masing-masing sebanyak 2 μL. Vorteks sebentar sebelum dimasukkan ke dalam mesin PCR (Thermalcycler). Pastikan progam yang akan dijalankan adalah TSV. Suhu pada Themalcycler PCR Reaksi Suhu (0oC) Waktu (detik) Jumlah Siklus First  PCR Denaturation 94 20 15 Annealing 62 40 15 Extension 72 30 15 Final Elongation 20 30 15 Denaturation 94 20 30 Annealing 62 20 30 Extension 72 30 30 Final Elongation 20 30 30 Nested PCR
Prosedur Reaksi Polymerase Chain Reaction (PCR)
·         Disiapkan bahan campuran first PCR dan Nested PCR yang diperlukan sesuai nomor sampel. Untuk masing-masing reaksi, dibuat tiga positif standar (103, 102, 101) dan 1 kontrol negatif (ddH20)
·         Dilakukan pemipetan sebanyak 8 μl larutan campuran First PCR ke dalam masing-masing tabung 0.2 ml yang telah diberi label.
·         Ditambahkan sebanyak 2 ml ekstraksi sampel DNA atau standar ke masingmasing larutan reaksi
·         Dilakukan proses amplifikasi first PCR
·          Ditambahkan sebanyak 15 μl larutan Nested PCR ke dalam masing-masing tabung setelah first PCR selesai
·         Dilakukan proses amplifikasi Nested PCR
·         Ditambahkan sebanyak 2 μl loading dye 6X ke dalam masing-masing tabung setelah reaksi nested PCR selesai, kemudidan campurkan merata
·         Dilakukan tahapan elektroforesis pada sampel setelah bahan dicampur
d.    Tahapan elektroforesis
Tabung yang telah selesai pada tahapan amplifikasi disiapkan dan ditambahkan 5 mL 6X loading dye pada masing-masing tabung dan mengganti tip mikropipet untuk tiap-tiap pengambilan loading dye dan campurkan hingga larutan homogen. Letakan Gel yang sudah gel yang sudah di cetak kedalam tangki elektroforesis lalu tangki diisi dengan larutan TAE 1X sebanyak 500 mL (sampai gel terendam).HasilProduk PCR yang sudah dicampur dengan loading dye kemudian dimasukkan ke dalam sumuran gel sebanyak 5-10 mL dengan mikropipiet. Marker atau penanda DNA yang sudah diketahui berat molekulnya (284 bp dan 476 bp) juga dimasukkan sebanyak 5 mL. Marker diletakkan di awal atau di akhir deretan sumuran gel. Setelah semua sampel disuntikkan dalam sumuran, tutup elektroforesis dipasang dan listrik dihidupkan dengan voltase diatur 100 V selama 30 menit.


e.    Pengamatan dan dokumentasi
 Setelah proses electrophoresis selesai, maka gel yang berada pada pada alat dipindahkan dengan menggunakan sarung tangan kemudian rendam gel dalam larutan zat ethidium bromida (ETBR) 0,005 % selama 10 menit.Setelah itu angkat gel dan rendam kembali dengan menggunakan aquades steril selama 10 menit. Amati gel diatas mesin UV Transiluminator dan didokumentasi.
f.     Pembacaan hasil    
Hasil positif TSV bila terlihat garis perpendaran pita DNA (band) dengan ukuran 284 bp, 476 bp. Hasil negatif bila tidak terlihat garis perpendaran pita DNA (band) atau pendaran hanya pada 848 bp.






















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.     Hasil
Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan sampel udang dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dilaksanakan di Balai Karantina Ikan Kelas II, Semarang adalah sebagai berikut:
1.     Gejala klinis udang terserang viral disease
Pemeriksaan gejala klinis selama Praktek Kerja Lapangan dilakukan pada udang vannamei yang diduga terinfeksi virus dengan mengamati kondisi fisik udang. Pengamatan dilakukan pada saat pengambilan sampel. Udang sampel merupakan benur udang yang memiliki panjang 5cm yang berasal dari tambak yang dilaporkan mengalami banyak kematian di wilayah Pati, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan pada tambak bp Suprio dan bp. Redi Sujoko. Secara umum kondisi benur udang pada tambak bp. Suprio memiliki kondisi baik, terlihat dari aktifnya udang ketika dilakukan pemberian pakan untuk mempermudah pengambilan sampel udang dengan menggunakan anco. Berbanding terbalik dengan kondisi benur udang pada tambak milik bp. Redi Sujoko, sebagian besar benur udang mengalami kematian dengan kondisi membusuk didasar tambak. Udang yang masih hidup cenderung pasif dan berada pada pinggiran tambak dan menyendiri di antara algae yang tumbuh dekat dengan permukaan air. Udang yang masih hidup tersabar merata pada bagian pinggir tambak. Secara rinci gejala klinis yang terjadi pada kedua tambak disajikan pada tabel di bawah ini.
Gejala Klinis Udang yang Diduga Terserang Viral Disease Tingkah Laku Kondisi
No
No Sampel Acuan Fisik Udang
Fisik Udang
1
S.04.03.0471.P
 Aktif bergerak Normal
2
S.04.03.0472.P
Normal
3
S.04.03.0473.P
Aktif bergerak Pasif di pinggir tambak
4
S.04.03.0474.P
Pasif di pinggir tambak
5
S.04.03.0475.P
Pasif di pinggir tambak Tubuh lunak

Sampel udang yang digunakan diduga telah mengalami infeksi Viral Disease yang mengacu pada gejala klinis yang ditunjukan pada saat survey lokasi yang telah mengalami kematian pada sebagian besar udang yang dipelihara di tambak. Untuk sampel udang vannamei dilakukan analisis laboratorium menggunakan PCR untuk mengetahui secara pasti akan serangan infeksi WSSV, TSV dan IMNV pada udang. Sampel udang yang digunakan merupakan capuran sampel udang dari dua tambak tambak yang berbeda yaitu dua ekor sampel udang berasal dari tambak bp. Suprio dan tiga sampel udang dari tambak bp.Redi Sujoko.
2.     Pemeriksaan TSV dengan PCR
Udang yang didiagnosis memiliki tingkah laku yang cenderung pasif dan memiliki kondisi fisik tubuh yang lunak ketika dipegang. Pemeriksaan lanjutan yang dilakukan pada udang vannamei setelah mengamati gejala klinis adalah pengambilan sampel pleopoda, periopoda, insang dan ekor. Selanjutnya dilakukan proses ekstraksi RNA agar sampel bisa digunakan pada proses PCR dan terakhir adalah proses elektroforesis untuk mengetahui gambaran gel agarose yang akanmenunjukan indikasi positif atau negatif infeksi TSV tersebut. Secara lengkap proses pemeriksaan TSV dengan PCR.
Hasil pemeriksaan TSV (metode PCR) pada gel agarose dengan menggunakan Kit IQ2000TM; menunjukkan bahwa contoh udang yang berasal dari tambak udang di Desa Geneng Mulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, terdeteksi negatif terinfeksi TSV. Hasil dari visualisasi gel agarose pada pemeriksaan TSV menunjukan pada 5 sampel udang yang tidak terdeteksi sample tersebut terinfeksi virus TSV. Mengacu pada intruction manual IQ 2000TM, menyatakan bahwa hasil positif TSV bila terlihat garis perpendaran pita DNA (band) dengan ukuran 284 bp dan atau 476 bp sedangkan hasil negatif bila tidak terlihat garis perpendaran pita DNA (band) atau pendaran hanya pada 848 bp. Keseluruhan sampel yang telah di uji menggunakan pemeriksaan molekuler ini tidak terdeteksi telah terinfeksi virus TSV hal ini dapat dilihat pada hasil visualisasiyang menunjukan tidak adanya pendaran pita (band) pada ukuran 284 bp dan atau 476 bp. Tidak berpendarnya pita dapat dimungkinkan karena buruknya kualitas RNA yang ada ataupun keteika proses ekstraksi RNA tidak sengaja ikut terbuangsehingga tidak menunjukkan adanya pendaran pada gel agarose.
Hasil Pengamatan PCR pada Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) Kode Keterangan/ asal sampel udang Hasil M Marker K(+) Kontrol positif (TSV) Positif K(-) Kontrol negativ (TSV) Negatif S.04.03.0471.P Contoh Udang dari tambak Bp. Suprio Negatif S.04.03.0472.P Contoh Udang dari tambak Bp. Suprio Negatif S.04.03.0473.P Contoh Udang dari tambak Bp. Redi S Negatif S.04.03.0474.P Contoh Udang dari tambak Bp. Redi S. Negatif S.04.03.0475.P Contoh Udang dari tambak Bp. Redi S. Negatif
3.     Kualitas air
Parameter kualitas air yang diamati dalam pemeriksaan infeksi TSV meliputi salinitas suhu, pH, DO, CO2, dan Alkalinitas. Parameter yang menjadi perhatian adalah suhu. Hal ini dikarenakan suhu sangat berpengaruh terhadap serangan infeksi firus TSV dan merupakan salah satu faktor pemicu serangan TSV. Suhu berpengaruh terhadap siklus replikasi virus.
Secara lengkap, data pengamatan kualitas air dapat dilihat di bawah ini:
Data Kualitas Air Tambak Pembudidaya Udang Vannamei Desa Margo Tuhu, Kecamatan Juwana, Pati.
Baku Mutu Air Untuk Tambak Tambak Perikanan Parameter 1 2 Nilai Acuan Warna air 0 Jernih Jernih - 0 Suhu ( C) 34 34 28-32 C SNI pemeliharaan pH 7,2 7,3 7,5 – 8,5 Kordi, 2011 DO 9 6 >3 Kordi, 2011 CO2 0 0 < 12 Kordi, 2011 Salinitas 24 32 24 –34 ppt Kordi, 2011 Alkalinitas (mg/l) 60 90 50-300 Kordi,2011 Waktu Sampling 14.26 14.56
 Cuaca Cerah Cerah Hasil pemeriksaan kualitas air pada saat survey dilakukan menunjukan bahwa kondisi kualitas air secara umum masih memenuhi standart kelayakan untuk proses budidaya. Dari semua parameter yang diukur hanya salinitas air yang berbeda pada kedua tambak pada tambak bp. Suprio memiliki salinitas 25 ppm sedangkan pada tambak bp. Redi Sujoko memiliki salinitas 32 ppm, hal ini dapat dikarena kemungkinan sumber air yang berbeda ataupun telah tercampurnya air tambak dengan air hujan yang terjadi sebelum survey dilakukan.


B.    Pembahasan
1.     Gejala klinis udang terserang viral disease
Sampel udang yang akan diperiksa merupakan sampel hidup dengan gejala klinis didasarkan pada pengamatan yang dilakukan pada saat pengambilan sampel.Udang yang berada di dalam tambak menunjukan adanya serangan infeksi virus yang menyerang benur udang dengan panjang rata-rata 5 cm dengan usia pemeliharaan tiga minggu. Tingkah laku udang yang terlihat adalah sebagian besar udang berada pada pinggiran tambak dan menyendiri cenderung diam atau pasif diantara algae yang tumbuh dekat dengan permukaan air. Tubuh udang terasa lunak ketika dipegang namun tidak menunjukan adanya melanisasi pada lapisan epidermis.
 Pengambilan sampel ini didasarkan atas laporan pemilik tambak yang mengalami kematian pada sebagian besar benur udang yang telah dipelihara dan pendugaan tersebut menjadi dasar dilakukan pemeriksaan secara biomolekuler sampel udang tersebutapakah telah terkena serangan virus TSV, WSSV ataupun IMNV atau tidak. Menurut Surfianti (2010), Udang sampel diambil dalam kondisi hidup, secara klinis sampel yang diambil atau akan digunakan dalam uji telah menunjukan gejal TSV, yaitu berenang menuju pinggir tambak, daging agak lunak, ekor kipas atau telson kemerahan, kaki renang berwarna kemerahan dan bercak hitam (melanisasi) di bawah kutikula.
 Berdasarkan Kajian dari Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan (2005) , membagi dua indikator kemungkinan adanya infeksi TSV, antara lain:
a.      Pada infeksi berat (akut) sering mengakibatkan kematian massal, udang yang mengalami kematian didominasi oleh udang yang sedang/baru selesai proses pergantian kulit(moulting), saluran pencernaan kosong dan warna tubuhkemerahan. Warna merah yang lebih tegas dapat dilihatpada ekor kipas (telson).
b.      Udang yang selamat dari fase akut, umumnya mampu hidup dan tumbuh normal dengan tanda bercak hitam (melanisasi) yang tidak beraturan di bawah lapisan kutikula.

2.     Pemeriksaan TSV dengan metode PCR
Pengamatan gejala klinis pada udang sampel dilakukan sebagai diagnosis awal yang mengindikasikan udang tersebut telah positif terinveksi TSV. Pemeriksaan dengan mengunakan metode PCR bertujuan untuk memastikan ada atau tidak adanya infeksi virus TSV pada tubuh udang. Pemeriksaan dengan metode PCR bertujuan untuk melipat gandakan sekuen nukleotida tertentu secara eksponensial dalam waktu yang singkat secara invitro.
Proses Pemeriksaan TSV dengan menggunakan metode PCR memerlukan sejumlah siklus untuk mengamplifikasi sekuen RNA spesifik. Setiap siklusya terdiri tiga tahap yaitu denaturation (pemotongan), annealing (penempelan) dan extention (pemanjangan).Pada pengujian yang dilakukan dengan menggunakan kit IQ2000TM, marker PCR menggunakan primer spesifik KHV dengan berat molekul 848 bp, 284 bp dan. 476 bp. Hasil positif ditunjukan apabila mucul atau berpendarnya pita atau band pada ke tiga fragmen spesifik tersebut dan dapat digolongkan dengan infeksi berat, apabila terjadi perpendaran pada fragmen 284 bp - 476 bp hal ini menunjukan sampel positif terinfeksi virus TSV dengan status infeksi sedang, apabila hanya terjadi perpendaran band pada fragmen 284 diduga sampel positif ringan sedangakan apabila hanya terjadi perpendaran pada fregmen 848 bp atau tidak terjadi perpendaran pada ke tiga fragmen maka hal ini menunjukan bahwa firus TSV tidak terdeteksi pada sampel udang yang telah diuji.
Didasarkan pada kajian Surfianti (2010), TSV memiliki genom +ssRNA dengan panjang 9 bp. Sampel TSV yang diduga terinfeksi TSV positif ringan ditandai dengan munculnya band pada 276 bp, sampel yang terinfeksi TSV positif sedang ditandai dengan munculnya band pada 276 bp dan 476 bp, sedangkan sampel yang terinfeksi TSV positif berat ditandai dengan munculnya band pada 276 bp, 476 bp dan 848 bp. Hal ini menunjukan bahwa batasan sekuen TSV yang dikenali oleh primer adalah 848 bp. Hasil yang diperoleh adalah pada kelima sampel udang yang telah diuji secara biomolekuler tidak terdeteksi adanya infeksi virus TSV pada benur udang. Hal ini ditunjukan dari hasil visualisasi proses amplifikasi dan elektroforesis yang telah dilakukan. Pada ke lima sampel tidak terlihat munculnya pendaran band pada fragmen 276 bp, 476 bp, dan 848 bp. Hal ini dimungkinkan karena buruknya kualitas RNA yang ada akibat tidak sesuainya sampel udang yang digunakan ataupun DNA ikut terbuang pada proses ekstraksi sehingga dalam proses elektroforesis tidak menunjukan pendaran pada gel agarose.
 Menurut Surfianti (2010), salah satu sifat RNA adalah mudah sekali mengalami degradasai yang dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti handling yang kurang baik cepat serta suhu penyimpanan yang rendah berperan dalam menjaga kualitas maupun kuantitas sampel RNA yang disimpan. Di dukung dengan pernyataan Surfianti (2010), bahwa tahapan ekstraksi merupakan tahap awal dalam proses pemisahan DNA/RNA dan merupakan tahapan penting untuk uji berikutnya, sehingga harus bebas dari kontaminasi. Menurut Dwinanti (2011), Penggunaan teknik PCR memeilki beberapa kelemahan antara lain kemungkinan memperoleh hasil positif maupun negatif yang salah. Hasil positif yang keliru dapat disebabkan karena adanya kontaminasi oleh kontrol positif maupun sampel yang lain sebelum proses amplifikasi. Hasil negatif yang salah dapat disebabkan karena jumlah kopian DNA/RNA yang tidak mencukupi dan tingkat infeksiyang terlalu rendah sehingga pita DNA/RNA berpendar redup atau bahkana tidak berpendar, adanya inhibitor sehingga reaksi enzim terhambat, kerusakan mesin PCR, kesalahan pada penggunaan atau pengaturan alat, kualitas sampel yang buruk, serta kesalahan konsentrasi bahanbahan seperti primer dan ion Mg2+
3.     Kualitas air
Kualitas air merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan penyebaran virus TSV pada areal. Dari hasil pengukuran kualitas air pada tambak bp Suprio dan bp. Redi Sujoko dapat dikatakan kedua tambak tersebut memiliki kualitas air yang baik dengan kisaran suhu keduanya 340C tingginya suhu ini dikarenakan pengukuran dilakukan pada saat matahari terik, Salinitas 25 - 32 ppm, DO 9 mg/l, pH 7,2 – 7,3, CO2 0 mg/l, dan alkalinitas 60 – 90 mg/l. Lingkungan Hidup optimal yang menunjang pertumbuhan dan sintasan atau kelangsungan hidup udang vannamei memiliki toleransi yang sangat luas terhadap perubahan lingkungan , seperti salinitas 0,1-60 ppt ( tumbuh dengan baik 10 – 30ppt, (ideal 15 – 25 ppt) dan suhu 12 – 37 0C (tumbuh dengan baik pada suhu 24 – 34 0C) dan ideal pada suhu 28 – 31 0C) ( Kordi,2011). Disamping kualitas air yang harus di perhatikan, sistem budidaya turut andil dalam proses penyebaran virus pada area pertambakan disuatu daerah, ketika dilakukan pengambilan sampel udang di area tambak desa Margo Tuhu, hampir semua pertambakan menerapkan sistem tambak tradisional maupun sistem semi intensif. Hal ini merupakan salah satu faktor cepatnya penyebaran penyakit viral. Sistem pertambakan yang baik untukpengendalian penyakit TSV adalah sistem semitertutup (semi closed system) dan tertutup (closedsystem), sehingga desain dan konstruksi harusdisesuaikan. Tambak yang ideal terdiri dari petakanpemeliharaan dan petakan tandon, sertadilengkapidengan saluran inlet dan outlet yang terpisah. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga sistem pertambakandari kemungkinan masuknya patogen dari luar dan keluarnya patogen dari dalam ke luar sistem. Cara lain untuk menghindari resiko infeksi virus dapat dilakukan dengan pergiliran pola tanam atau mengistirahatkan tambak untuk jangka waktu tertentu. (Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan , 2005).















BAB V
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.    Gejala klinis udang vannamei yang diduga terinfeksi TSV diantaranya adalah memiliki gejala klinis seperti tubuh lunak dan memiliki tingkah laku yang cenderung pasif di pinggir tambak. Sebagian besar udang yang berada di tambak milik bp Redi Sujoko berada pada pinggiran tambak dan cenderung diam dan tersebar merata di antara alga yang tumbuh pada pinggiran tambak.
2.    Pemeriksaan biomolekuler dengan menggunakan PCR untuk memastikan dan mendeteksi adanya virus RNA yang mengindikasikan bahwa kematian udang yangterjadi disebabkan oleh serangan virus TSV memberikan hasil negatif, hal ini memberikan indikasi bahwa diagnosa dengan pendekatan biomolekuler tidak selalu sejalan dengan tanda-tanda klinis. Metode analisis biomolekuler tersebut pada setiap siklusnya terdiri dari tiga tahapan yaitu proses denaturasi, annealing, dan extention. Berdasarkan analisis PCR yang dilakukan terhadap 5 sampel yang terdiri dari 2 sampel udang dari tambak bp. Suprio dengan kode sampel S.04.03.0471.P dan S.04.03.0472.P
3.    sampel udang dari tambak bp. Redi sujoko dengan kode sampel S.04.03.0473.P, S.04.03.0473.P, dan S.04.03.0475.P memberikan hasil negatif.
B.    Saran
Saran yang dapat diambil dari hasil Praktek Kerja Lapangan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1.    Pada saat pengambilan sampel hendaknya teliti dalam mengamati ciri-ciri fisik maupun tingkah laku udang yang diduga terserang viral disease agar tidak terjadi kekeliruan dalam pendiagnosisan secara molekuler.
2.    Dalam pengujian sampel dengan menggunakan PCR hendakanya dilakukan secara hati-hati dan teliti agar hasil akhir proses ini dapat divisualisasikan dengan baik untuk menentukan positif atau tidaknya sampel udang terinfeksi TSV. Sampel yang digunakan hendaknya telah menunjukan gejala-gejala umum serangan virus TSV karena disini merupakan dugaan awal agar proses PCR tidak sia-sia dilakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar